Nov 27
Stumbleupon
Technorati
Delicious

Pemberitaan ‘Manusia Pohon’, Positif atau Negatif?

Seperti yang bisa kita rasakan belakangan ini, kasus Bapak Dede yang banyak disebut sebagai manusia pohon makin membahana. Dan perkembangan terakhir menyebutkan bahwa setelah ramai diberitakan oleh media massa, bahkan mencuat ke seluruh dunia melalui Discovery Channel, akhirnya pemerintah pun sigap memperhatikan dan menanganinya. Dari info terakhir yang saya dapat, saat ini Bapak Dede telah menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.

Seperti di tulisan sebelumnya yang saya ambil dari berbagai sumber, kali ini saya juga masih akan mengutip dari berbagai sumber mengenai perkembangan terbaru kasus manusia pohon.

Dalam satu sumber disebutkan bahwa Menteri Kesehatan, Siti Fadillah Supari, mengecam komersialisasi gambar Bapak Dede ketika diwawancara oleh wartawan. Suatu ketika wartawan merespon pernyataan Menkes tersebut dengan pertanyaan mengenai sisi positif dari pemberitaan tersebut. Namun, sang Menkes menganggap bahwa dalam hal ini yang untung hanya pihak televisi saja (dalam hal ini Fox).

Hmm… Oke! Saya sependapat dengan Menkes. Fox yang dalam hal ini menjual hak siar film dokumenter tersebut ke Discovery Channel mungkin memang untung besar. Tapi kalau dikatakan bahwa dari pihak pasien tidak diuntungkan sama sekali jelas saya menolak. Sekedar informasi, menurut sumber yang saya dapat, diisukan bapak Dede menerima uang sejumlah 500 dollar AS langsung dari pihak Fox, itu belum termasuk biaya operasional pembuatan film dokumenter yang diberikan kepada agen (hmm… sebenarnya sih sebutannya bukan agen) untuk kemudian dibagikan kepada bapak Dede. Entah isu tersebut benar atau tidak…

Tapi yang jelas, dengan tidak membicarakan masalah finansial, saya beranggapan bahwa pemberitaan tersebut memberikan dampak positif bagi pasien. Hmm… Itu hanya sekedar pendapat saja. Bukan dilihat dari segi pendapatan yang diperolehnya (kalau memang isu tersebut benar), tapi saya lebih melihat dari segi kesadaran sosialnya. Saya mengira kalau kasus ini tidak diberitakan ke khalayak luas dan bahkan dunia (sengaja atau tidak) belum tentu bapak Dede akan mendapat perhatian sebesar seperti sekarang ini. Setidaknya Pak Dede bisa langsung mendapat penanganan untuk pengobatannya sekarang ini. Mantap euy!

Kalaupun memang bila sebelum ini pemerintah atau dalam hal ini Depkes sudah menanganinya, saya rasa tidak begitu serius. Terkesan demikian juga dari kutipan wawancara dengan Menkes. Ketika ditanya wartawan mengenai apakah ada pengawasan pemerintah terhadap Dede setelah keluar dari rumah sakit tahun 1997. Menkes menjawab, “Ya tidaklah. Dulu kan cuma kutil. Lagi pula dia tidak muncul-muncul lagi… Jangan marah ya…”

Hahaha… Kalo dulu kutil sekarang apa Bu? Kalo misalnya ada yang marah ya maklum aja Bu! Wong Anda aja ngomongnya ngawur gitu! Jangan marah ya Bu… :D

Males dipikirin ah… Tapi yang jelas, daripada ribut-ribut mikirin masalah kontrak, siapa yang untung, dan lain sebagainya, lebih baik kita ambil angin segarnya saja. Sepertinya ada secercah harapan untuk Bapak Dede mengenai pengobatannya. Dikabarkan bahwa dokter dermatologi AS, Anthony Gaspari, telah membagi hasil penelitiannya kepada pihak dokter Indonesia di RSHS. Gaspari telah melakukan pemeriksaan laboratorium dan menemukan diagnosis awal. Dan tanggal 26 kemarin, tim dokter sudah mulai merencanakan untuk memangkas sebagian kulit tebal yang menyerupai akar pohon di tangan dan kaki pasien.

Anyway, mari kita berdoa agar bapak Dede diberi kemudahan dan kesembuhan! Amiin…

Referensi:


Posted by adit-nya niez at 12:01 am - 1,005 views

6 responses for this post

Totoks
27 November 2007 - 12:44 am

tidak ada yg diuntungkan disini… pak dede masih sakit dia perlu perhatian lebih besar. masalah kontrak televisi dan lain2 adalah segi bisnis yang akan muncul dikemudian hari. yg penting sekarang langkah konkrit dari pemerintah sudah kelihatan biarpun terlambat gak usah dibuat pro dan kontra. bangsa ini sudah capek dukuyo-kuyo apapun tindakan yg diambil seakan tidak ada benarnya… jadi kita doakan saja semuanya bisa berjalan lancar

icha
27 November 2007 - 4:15 am

amiinnn…moga dia sembuh deh…kasian banget ngeliatnya… dan yg lebih kasian lagi…dia itu sudah berkeluarga..udah punya anak..kasian kan anaknya

dEEtHa
27 November 2007 - 11:29 pm

amiin…
yg ptg, mdh2an Pak Dede sembuh deh..
emang srg gitu sih, pemerintah sok perhatian aja tuh… :-\”
kemana aja dulu tuh, koQ baru skrg Menkes turun tangan????

:-??

Kresna
28 November 2007 - 9:32 am

Pemberitaan pada awalnya menyudutkan Fox, Discovery dan Gaspari karena tidak satupun media yang mengkonfirmasi kepada pihak-pihak di atas. Padahal tidak terlalu sulit. Mudah di googling. Kontak saya ada pada Dede. Sebenarnya saya sendiri tidak berhak bicara atas nama Fox maupun Discovery karena saya hanya pekerja kontrakan (freelance). Tapi akhirnya saya merasa harus bicara, selepas hanya memberikan fakta-fakta yang terjadi saja.

Gayung bersambut, pihak rumah sakit dan kementerian pun akhirnya mengerti duduk soalnya. Kerja sama pun akan dilakukan. Kami memang salah, mengadakan medical practicioner asing tanpa izin, membawa sample ke luar negeri tanpa izin. Meski bukannya tidak mencoba untuk melakukannya dengan prosedur yang benar.

Tapi hal di atas memang dilakukan untuk tujuan humaniter. Dan dari awal memang sudah berniat akan bekerja sama dengan dokter2 di Indonesia. Karena itu rumah sakit dan Ibu menteri pun akhirnya mengerti dan maklum.

Perkara hanya Fox yang untung, ya namanya juga perusahaan yang harus cari untung. Dokumenter untuk Discovery Channel atau National Geographic biasa dibanderol dari puluhan ribu hingga ratusan ribu dollar. Bisa jutaan bila melibatkan banyak adegan reka ulang (seperti kisah Admiral Cheng Ho misalnya, harus membuat banyak kapal). Tapi ongkos produksi untuk itu memang cukup mahal. Produksi “Half Man, Half Tree” dimulai awal April 2007. Awal November mereka masih mengecek semua ejaan nama. Dan baru tayang 15 November.

Ibu menteri pun sempat bertanya berapa saya dibayar. Saya pikir, membuat dokumenter tentang Manusia Pohon, tentang Menteri, atau tentang monyet, saya akan mendapat imbalan yang kurang lebih sama.

Bagaimana dengan narasumber. Memang saat itu urusannya tidak langsung dengan Dede. Karena itu 500 dolar yg disebut-sebut itu sebenarnya hanya jumlah yg langsung dari tangan Fox. Andaikan Dede tidak sedang dalam penguasaan seseorang, ia pun akan menerima jauh lebih besar, sesuai dengan anggaran produksi.

Terus terang membuat dokumenter memang suatu eksploitasi. Entah itu tentang manusia pohon, menteri atau monyet. Karena itu seringkali kita memberi imbalan kepada narasumber atau objek dalam dokumenter. Masalahnya, objek dalam dokumenter itu tidak dapat diperlakukan seperti bintang film layar lebar, sehingga seringkali terbentur masalah etis bila harus membayar sejumlah harga kepada narasumber.

Imbalan non-material yang diberikan dalam dokumenter itu sebenarnya jauh lebih bermanfaat. Yaitu ilmu pengetahuan bagi masyarakat (idealnya begitu).

Praditya
28 November 2007 - 11:37 am

@Kresna:
Eh… Ini beneran Kresna yang freelancer Fox TV ntu? :o

Wah, gak nyangka bakalan dibaca… :d

Tapi saya setuju sama mas Kresna tentang manfaat yang diberikan dalam film dokumenter tersebut, pengetahuan!

Terima kasih telah menjadi saalah satu bagian dari pemberitaan ini mas Kresna… :d

mulia
30 November 2007 - 12:03 am

Suebel….shout out ku gak keluar2..suebel. dari kemaren..
:((

btw soal manusia pohon, aku baru denger loh. gara2 beberapa hari y lalu kakaku sms
“mul, mamah tanya, kutil kamu tumbuh lagi gak habis operasi? mamah liat berita dede manusia pohon trus inget kamu”
hahahaha, astagfirullah al adziim..
mamahku..itu.. kan kutilku dulu cuma jentik2 saja, nggak segitunya.

kasihan yah. aku baru lihat pas kakaku kirim email foto nya si dede. aku gak tahu harus bagaimana. kamu hebat bisa ngomong macam2 dit.. aku nggak berdaya.

cuma bisa doa.

Comments RSS

Sorry, the comment form is closed at this time.

close
Pemilik blog ini sudah memiliki rumah baru di www.aditdanniez.com dan walimah.aditdanniez.com. Silakan kunjungi...